Temuan Potongan Kaki Bekas Amputasi di Semarang, Tergolong Limbah B3
Temuan potongan kaki di Pantai Marina, Kota Semarang, yang sempat menggegerkan warga ternyata bekas tidakan medis amputasi milik seorang lansia.
Baca SelengkapnyaBerita Terkini

Kamis, 19 Feb 2026 11:04 WIB
Suasana Umbul Besuki pada masa padusan tahun ini benar-benar hidup dan penuh warna. Sejak pagi hingga sore, aliran pengunjung dari berbagai daerah sekitar Klaten terus berdatangan untuk menikmati mata air yang jernih, kolam renang, dan rindangnya hutan jati yang mengelilingi area.
Keramaian tidak lagi terpusat pada satu titik saja, pengunjung tersebar merata di setiap wahana sehingga suasana terasa dinamis namun tetap nyaman bagi keluarga, rombongan teman, maupun wisatawan solo.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Momentum padusan membawa lonjakan kunjungan yang signifikan dibanding hari biasa. Walau tidak ada ritual khusus yang digelar, hiburan sederhana berupa musik akustik dari band lokal berhasil menambah nuansa hangat dan akrab.
Alunan lagu-lagu ringan menjadi latar bagi tawa anak-anak yang bermain air, percakapan keluarga, dan momen-momen santai pengunjung yang ingin melepas penat. Kehadiran musisi lokal juga memberi ruang bagi talenta setempat untuk tampil dan berinteraksi dengan audiens, sehingga suasana terasa lebih hidup dan bersahabat.
Selain kolam utama dengan air sebening kaca yang sering dijadikan latar foto, tersedia pula kolam anak, gazebo untuk bersantai, area bermain, serta jalur pejalan yang rapi untuk menikmati pemandangan.
Pengelola tampak serius menjaga kebersihan dan kenyamanan fasilitas; petugas kebersihan terlihat aktif, tempat pembuangan sampah tersebar di titik strategis, dan fasilitas umum seperti kamar mandi serta ruang ganti dipelihara agar pengunjung merasa aman dan nyaman selama beraktivitas.
Menurut Nurcholis perwakilan pengelola, kunjungan wisata relatif stabil setiap tahun dengan puncak pada musim padusan, akhir pekan, dan libur panjang. Faktor yang mendorong minat pengunjung antara lain aksesibilitas lokasi, keindahan alam, serta keberadaan stand kuliner dan UMKM yang menawarkan berbagai pilihan makanan dan minuman.
Kombinasi ini membuat banyak pengunjung betah berlama-lama, sekaligus membuka peluang ekonomi bagi warga sekitar yang mengandalkan pariwisata sebagai sumber penghasilan.
Stan UMKM yang tersebar di sekitar area menawarkan makanan tradisional, minuman segar, serta kerajinan lokal yang menarik. Kehadiran pelaku usaha kecil ini tidak hanya memenuhi kebutuhan wisatawan, tetapi juga memperkaya pengalaman berwisata dengan cita rasa dan produk khas daerah.
Interaksi antara pengunjung dan penjual terasa hangat; banyak transaksi disertai obrolan ringan tentang rekomendasi kuliner atau cerita asal-usul produk, sehingga suasana menjadi lebih personal dan bersahabat.
Kejernihan mata air Umbul Besuki menjadi daya tarik tersendiri. Air yang bening memantulkan cahaya sehingga kolam tampak seperti kaca alami, pemandangan ini kerap dimanfaatkan pengunjung untuk berfoto atau sekadar duduk menikmati ketenangan.
Sensasi sejuk dari mata air memberi efek menyegarkan, terutama bagi mereka yang datang dari kota dan mencari suasana alami untuk melepas penat. Aspek keselamatan mendapat perhatian serius.
Petugas penjaga kolam berjaga di titik strategis, rambu-rambu keselamatan dipasang, dan prosedur sederhana diterapkan untuk mengurangi risiko kecelakaan. Fasilitas pendukung seperti area parkir yang memadai dan akses jalan yang relatif baik memudahkan pengunjung yang membawa kendaraan. Semua upaya ini bertujuan menjaga kenyamanan serta meningkatkan kepercayaan pengunjung terhadap pengelolaan tempat wisata.
Kehangatan interaksi antar pengunjung menjadi daya tarik nonfisik yang penting. Banyak pengunjung saling berbagi pengalaman, tips berenang, dan rekomendasi kuliner.
Suasana kekeluargaan ini memperkaya pengalaman berwisata dan menciptakan rasa aman bagi semua pihak, termasuk anak-anak dan orang tua. Interaksi sosial semacam ini juga membantu membangun citra positif Umbul Besuki sebagai destinasi ramah keluarga. Peran masyarakat sekitar sangat penting dalam menjaga kebersihan dan kelestarian.
Kegiatan gotong royong, edukasi pengelolaan sampah, dan praktik pengelolaan limbah sederhana dapat mengurangi dampak negatif pariwisata. Dengan keterlibatan aktif warga, Umbul Besuki tidak hanya menjadi tempat rekreasi, tetapi juga contoh pengelolaan wisata berbasis komunitas yang bertanggung jawab serta mendorong pembangunan ekonomi lokal.
Bagi wisatawan, menjaga etika berkunjung menjadi tanggung jawab bersama. Menghindari merusak fasilitas, membuang sampah pada tempatnya, serta menghormati pedagang lokal adalah bentuk dukungan sederhana.
Sikap santun dan peduli lingkungan akan membuat pengalaman berwisata lebih bermakna dan memastikan generasi mendatang juga dapat menikmati keindahan Umbul Besuki.
Musim padusan di Umbul Besuki menunjukkan bahwa wisata alam tetap diminati masyarakat. Kombinasi antara keindahan alam, fasilitas memadai, dan keramahan pelaku usaha menciptakan pengalaman yang menyenangkan. Semoga pengelolaan yang berkelanjutan bisa terus dijalankan agar keindahan dan manfaat Umbul Besuki tetap lestari bagi generasi mendatang.
---
Artikel ini merupakan kiriman pembaca detikTravel. Anda bisa mengirim cerita perjalanan Andamelalui tautan ini.

null
Berbekal kayak dan filter mikroplastik, Kristian Louis Jensen menghabiskan satu dekade terakhir menyusuri tempat paling tak terjamah di Bumi. Selama menempuh gelar Master perlindungan lingkungan, ilmuwan Inuit ini mengembangkan 'Plastsaq'. Alat ini memungkinkan pendayung dan masyarakat mengumpulkan sampel air yang mengandung serpihan barang seperti botol bekas.
"Pekerjaan itu menuntun saya mengajukan pertanyaan lebih dalam tentang jejak manusia yang tak kasat mata," ujarnya kepada Euronews Green yang dikutip detikINET. Hal inilah yang menginspirasi perjalanan terbarunya ke gletser terpencil di Greenland timur.
Jensen berkayak menuju salah satu sudut paling terisolasi di Arktik. Ia menemukan serat dan sampah plastik, tapi juga secara tidak sengaja menemukan jejak mengejutkan berupa partikel ban mobil dalam sampelnya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Menemukannya di gletser alami di Greenland timur sungguh mengejutkan karena memvalidasi tesis mengerikan, partikel ini bukan lagi sekadar masalah perkotaan," kata Jensen.
"Partikel tersebut telah menjadi debu, terbawa udara, dan menempuh perjalanan ribuan kilometer hingga ke Arktik. Ini adalah bahan bakar fosil yang bergerak. Ini memberi tahu kita Arktik adalah 'muara' polusi dunia," paparnya.
Dengan lebih dari lima miliar ban di jalan raya secara global, setiap ban kehilangan sekitar 10-30 persen massa selama masa pakainya. "Massa itu tidak menghilang begitu saja. Ia terurai menjadi debu beracun yang mengendap di bagian paling awal rantai makanan kita," cetus Jensen.
"Secara ekologis, kami melihat bukti awal bahwa toksisitas ban sangat tinggi bagi spesies Arktik. Misalnya, bahan kimia seperti 6PPD sangat mematikan bagi salmon Coho," jelasnya.
Polusi ban mobil juga dapat menyebabkan cacat pada telur ikan kod Atlantik, yang mengancam fondasi industri perikanan negara tersebut. Bagi Masyarakat Adat, perairan Greenland yang tercemar menimbulkan risiko kesehatan serius.
Di perkotaan, paparan partikel semacam ini dikaitkan dengan masalah kesehatan seperti asma dan gangguan jantung. "Di Arktik, ancaman itu kini mengendap di sumber makanan kami, mengubah lingkungan murni menjadi tempat penampungan limbah global," tambah Jensen.
Ilmuwan lama memperingatkan tentang masalah mikroplastik di Greenland. Namun, Jensen berpendapat ada titik buta kritis dalam kebijakan iklim yang bertujuan mengatasi masalah ini.
"Saat ini, kita mengatur apa yang keluar dari knalpot, tapi mengabaikan apa yang terkikis dari ban. Ini berbahaya, mengingat partikel ban kini diakui sebagai sumber utama mikroplastik yang masuk ke ekosistem secara global," cetusnya.
Jensen mengatakan transisi menjauh dari bahan bakar fosil hanya fokus pada black carbon, emisi pembakaran bahan bakar. "Kita perlu memperluas ini untuk mencakup carbon black (hitam karbon), bahan pengisi turunan bahan bakar fosil yang membentuk porsi besar dari setiap ban," jelasnya.
"Kita tidak bisa mengklaim sedang mengatasi krisis bahan bakar fosil jika mengabaikan petrokimia padat yang menggelinding di bawah kendaraan kita," imbuhnya.

Rabu, 18 Feb 2026 08:24 WIB
Pekan terakhir Februari seharusnya menjadi panggung bagi Festival Habanosâedisi ke-26âritual tahunan yang mengundang kolektor, distributor, dan taipan tembakau dari berbagai penjuru dunia. Namun Sabtu (14/2) lalu Habanos S.A., pemegang monopoli global cerutu Kuba, mengumumkan acara ditunda. Alasannya terdengar normatif: menjaga "standar kualitas tertinggi". Tak ada tanggal baru. Tak ada kepastian.
Pulau berpenduduk 11 juta jiwa tersebut tengah dilanda pemadaman listrik berkepanjangan dan krisis bahan bakar paling parah dalam beberapa tahun terakhir. Pemerintah menerapkan penghematan ketat: hotel ditutup sementara, wisatawan dipindahkan demi menghemat energi, transportasi publik dikurangi. Bahkan pasokan avtur menipis; tiga maskapai Kanada membatalkan penerbangan karena tak bisa mengisi ulang bahan bakar di bandara Kuba. Maskapai lain tetap terbangânamun singgah di Republik Dominika untuk mengisi tangki.
Krisis energi itu tak lahir di ruang hampa. Pada akhir Januari, Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengancam tarif bagi negara mana pun yang menjual minyak ke Kuba. Langkah itu disebut Washington sebagai bagian dari tekanan agar Havana melakukan reformasi politik dan ekonomi.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kuba mengimpor sekitar 60 persen kebutuhan energinya. Selama bertahun-tahun, negeri komunis tersebut bergantung pada suplai dari Venezuela dan Meksiko. Namun pengiriman dari Caracas terhenti setelah operasi militer Amerika Serikat yang menggulingkan Nicolas Maduro, disertai peningkatan pengawasan atas industri minyak Venezuela. Meksiko pun menghentikan pasokan menyusul ancaman tarif dari Washington.
Di tengah tekanan itu, perusahaan negara Tabacuba menyebut penundaan festival sebagai akibat "situasi ekonomi kompleks" karena "blokade ekonomi, komersial, dan finansial" yang diperketat Amerika Serikat.
Dampaknya paling kasatmata bukan hanya pada gedung-gedung konvensi, melainkan di sudut-sudut jalan Havana.
Kardus, kantong plastik, botol bekas, dan kain lap menumpuk di trotoar ibu kota pesisir itu. Lalat berkerumun, bau makanan busuk menyengat. Media pemerintah melaporkan hanya 44 dari 106 truk sampah yang masih beroperasi karena kekurangan solar. Pengangkutan limbah tersendat.
"Sudah lebih dari 10 hari tak ada truk sampah datang," kata Jose Ramon Cruz, warga setempat. "Sampah ada di mana-mana."
Warga di kota-kota lain mengeluhkan risiko kesehatan di media sosial. Pemerintah menerapkan penjatahan demi menjaga layanan esensial, di tengah kelangkaan pangan, bahan bakar, dan obat-obatan.
Embargo Amerika Serikat terhadap Kuba memang telah berlangsung lebih dari setengah abad. Namun dalam beberapa bulan terakhir, pemerintahan Trump memperkeras sanksiâmenarget kapal pengangkut minyak ke Kuba dan mengancam tarif pada pemasok. Washington menyebutnya sebagai tekanan politik. PBB berulang kali menyerukan pengakhiran embargo, sementara Meksiko dan Venezuela memperingatkan dampak kemanusiaan jika bahan bakar diblokade.
Di Jenewa, kantor tinggi hak asasi manusia Perserikatan Bangsa-Bangsa diingatkan tak lagi berbicara soal statistik: melainkan soal nyawa. Suara dari Volker Trk, Komisaris Tinggi PBB untuk Hak Asasi Manusia, disampaikan melalui juru bicaranya yang menegaskan: pembatasan Washington atas pasokan minyak ke Kuba tidak hanya memperdalam krisis sosial-ekonomi negeri itu, tetapi juga menyeret negara karibia ini ke ambang tragedi kemanusiaan.
Rumah sakit â tempat nyawa bertumpu pada mesin dan energi â kini kekurangan bahan bakar, menghambat unit perawatan intensif, ruang gawat darurat, bahkan penyimpanan vaksin dan obat-obatan yang sensitif terhadap suhu. "Tujuan kebijakan tidak bisa dibenarkan jika tindakan itu sendiri melanggar hak asasi manusia," demikian pernyataannya. PBB menyerukan diakhirinya sanksi sepihak tersebut.
Di tengah pusaran itu, Madrid bergerak. Pemerintah Spanyol menyatakan akan menyalurkan bantuan kemanusiaan ke Kuba melalui sistem PBB, berupa pangan dan produk kesehatan esensial. Keputusan itu diumumkan setelah pertemuan Menteri Luar Negeri Spanyol dan Kuba, Senin (16/2).
Sebelumnya, Meksiko telah mengirim 800 ton bantuan melalui dua kapal angkatan lautnya.
Presiden Donald Trump pada Senin (16/2) mengatakan bahwa Kuba telah menjadi "negara gagal" dan menyerukan agar Havana membuat kesepakatan dengan Amerika Serikat. Dia menepis dugaan Washington sedang melakukan operasi pergantian rezim.
"Kuba saat ini adalah negara yang gagal," ujar pemimpin AS itu kepada para wartawan di atas pesawat Air Force One.
Namun ketika ditanya apakah Amerika Serikat akan menggulingkan pemerintahan Kuba, seperti yang dilakukan Washington saat menyerbu Venezuela dan menangkap Presiden Nicolas Maduro, Trump menjawab: "Saya tidak berpikir itu akan diperlukan."
Editor: Yuniman Farid
Lihat Video 'Iran Latihan Perang di Selat Hormuz Jelang Ketemu AS':
[Gambas:Video 20detik]

0 Views |
Jumat, 10 Apr 2020 14:42 WIB
Siapa sangka barang limbah seperti sikat gigi, korek api dan pulpen bisa diubah menjadi barang kerajinan yang bernilai tinggi. Limbah tersebut diubah menjadi miniatur moge. Meskipun terbuat dari limbah plastik, pengrajin berusaha membuatnya semirip mungkinDok: Reportase Trans TV

Selasa, 17 Feb 2026 15:11 WIB
Traveler perlu tahu nih, Majelis Ulama Indonesia (MUI) resmi mengeluarkan fatwa yang menyatakan membuang sampah ke sungai, danau, dan laut hukumnya haram. Ketentuan itu tertuang dalam Fatwa Nomor 4/MUNAS XI/MUI/2025 tentang Pedoman Pengelolaan Sampah di Sungai, Danau, dan Laut untuk Mewujudkan Kemaslahatan.
Fatwa tersebut ditetapkan dalam Musyawarah Nasional (Munas) XI MUI yang digelar pada 20-23 November 2025. MUI menilai persoalan sampah telah menjadi masalah nasional yang berdampak luas, mulai dari kesehatan, sosial-ekonomi, hingga kerusakan lingkungan dan ekosistem perairan.
"Pengelolaan sampah merupakan bagian dari ibadah sosial (mu'Ämalah). Karena itu, setiap muslim wajib menjaga kebersihan sungai, danau, dan laut sebagai sumber air yang penting bagi kehidupan manusia dan makhluk hidup lainnya," demikian salah satu poin ketentuan hukum dalam fatwa tersebut, dilihatdetikcompada salinan fatwa, Selasa (17/2/2026).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Membuang sampah ke sungai, danau dan laut hukumnya haram karena dapat mencemari sumber air dan membahayakan kesehatan manusia dan makhluk hidup lainnya," bunyi fatwa tersebut.
Fatwa ini ditanda tangani oleh pimpinan sidang komisi fatwa Munas XI MUI, Prof. Dr. KH. M. Asrorun Niam Sholeh, M.A (ketua) dan Dr. KH. Ahmad Fahrur Rozi Burhan, M.Pd (sekretaris).detikcomtelah mengonfirmasi fatwa tersebut kepada Asrorun Niam dan beliau membenarkannya.
MUI menegaskan fatwa itu berlaku sejak ditetapkan pada 22 November 2025 di Jakarta. MUI juga mengimbau seluruh pihak untuk menyebarluaskan fatwa tersebut agar menjadi pedoman bersama dalam menjaga kebersihan dan kelestarian sungai, danau, serta laut di Indonesia.
MUI menjelaskan bahwa membuang sampah ke badan air lebih berbahaya dibanding di darat karena berpotensi mencemari sumber air, merusak ekosistem, dan membahayakan kesehatan manusia serta makhluk hidup lain.
Landasan fatwa itu antara lain ayat-ayat Al-Qur'an tentang larangan berbuat kerusakan di bumi, perintah menjaga kebersihan, serta hadis Nabi yang menekankan larangan menyakiti dan membahayakan orang lain.
Selain itu, MUI merujuk kaidah fikih seperti al-dhararu yuzÄl (kemudaratan harus dihilangkan) dan dar'u al-mafÄsid muqaddam 'alÄ jalbi al-maá¹£Äliḥ (mencegah kerusakan didahulukan daripada menarik kemaslahatan).
Fatwa itu juga memuat pedoman pengelolaan sampah bagi berbagai pihak. Masyarakat diminta mengurangi penggunaan plastik, memilah dan mengolah sampah, serta aktif bergotong royong membersihkan lingkungan perairan. Pelaku usaha dilarang membuang limbah ke sungai, danau, dan laut, serta didorong memakai bahan ramah lingkungan dan melakukan daur ulang.
Lembaga pendidikan dan tempat ibadah diminta menjadi teladan pengelolaan sampah, termasuk mengintegrasikan edukasi fikih lingkungan dalam kurikulum, khutbah, dan kajian. Tokoh agama diharapkan aktif menyerukan perilaku ramah lingkungan dan menjadi mediator kesadaran ekologis.
Sementara itu, pemerintah pusat dan daerah didorong memperkuat kebijakan, infrastruktur, pengawasan, serta penegakan hukum terhadap pelanggaran pembuangan sampah. Legislatif diminta memperkuat regulasi dan dukungan anggaran agar pengelolaan sampah perairan berjalan efektif.
Masalah sampah plastik di Bali kini menjadi sorotan serius di tingkat nasional. Prabowo Subianto menyinggung kondisi pantai Bali yang kotor akibat sampah saat Rakornas Pemerintah Pusat dan Daerah 2026.
Prabowo pun mendorong pemerintah daerah melibatkan pelajar dalam pembersihan sebagai upaya mengatasi persoalan itu. Meskipun berbagai kegiatan bersihâbersih dan kebijakan pembatasan plastik telah dijalankan, tantangan pengelolaan limbah tetap nyata, terutama di kawasan wisata padat pengunjung.
Situasi ini juga mempengaruhi citra Bali di mata dunia. Dalam arsip beritadetikTravel,Bali masuk dalam Fodor's No List 2025, daftar destinasi yang sebaiknya dipertimbangkan ulang untuk dikunjungi, karena overtourism dan tekanan lingkungan seperti tumpukan sampah di area wisata utama.
Media internasional menyoroti bahwa pariwisata yang cepat berkembang merusak habitat alami, mengikis warisan budaya, dan menciptakan kondisiplastic apocalypsedi beberapa pantai populer.
Sampah plastik tak hanya mengganggu estetika, tapi juga berdampak pada ekosistem laut, termasuk lamun, terumbu karang, dan biota laut yang menjadi daya tarik wisata. Plastik yang terseret ke laut mengancam kualitas lingkungan dan pengalaman wisatawan, sementara konservasi lamun penting untuk menjaga keseimbangan ekosistem pesisir serta fungsi perlindungan pantai.
Fenomena di Bali ini mencerminkan masalah yang lebih luas di destinasi wisata Indonesia. Banyak lokasi populer lain, dari Lombok hingga Labuan Bajo, menghadapi masalah serupa bahwa volume sampah meningkat seiring lonjakan wisatawan, fasilitas pengelolaan limbah terbatas, dan kesadaran pengunjung terhadap kebersihan masih rendah.
Kondisi itu menegaskan perlunya strategi pariwisata berkelanjutan, edukasi lingkungan, dan kolaborasi pemerintah, pelaku usaha, dan masyarakat untuk menjaga kebersihan dan kelestarian alam.
***
Selengkapnya klikdetikHikmah.

Senin, 16 Feb 2026 17:00 WIB
Program Waste-to-Energy (WtE) atau sulap sampah menjadi listrik sudah memasuki fase tender. Terdapat 24 peserta yang merupakan perusahaan internasional berpengalaman. Perusahaan-perusahaan yang lolos menjadi peserta tender ini diwajibkan membentuk konsorsium.
Lead of WtE Danantara Indonesia, Fadli Rahman, menjelaskan konsorsium yang nantinya dibentuk diharapkan memberi transfer teknologi kepada perusahaan lokal atau pemerintah daerah (pemda). Untuk tahap pertama, pengembangan WtE difokuskan di empat kota, yakni Bali, Bogor, Bekasi, dan Yogyakarta.
"Tender ini menunjukkan dalam menjalankan prosesnya Danantara selalu memastikan adanya tata kelola yang kuat sejak hulu, termasuk proses pemilihan Badan Usaha Pengembang dan Pengelola (BUPP) Pengolahan Sampah Menjadi Energi Listrik (PSEL) yang transparan dan berbasis mitigasi risiko," ujarnya dalam keterangan tertulis di Jakarta, Senin (16/02/2026).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dari sejumlah perusahaan yang menjadi peserta tender WtE, tiga di antaranya berasal dari Prancis, China, dan Jepang. Untuk memahami latar belakang serta rekam jejak global masing-masing peserta, berikut gambaran singkat mengenai ketiga perusahaan tersebut.
1. Veolia Environmental Services Asia Pte Ltd (Prancis)
Berdiri di Singapura pada 13 Desember 1997, Veolia Environmental Services Asia Pte Ltd merupakan perusahaan berbentuk Private Company Limited by Shares atau Perusahaan Terbatas. Perusahaan ini tergabung di dalam grup multinasional Veolia asal Prancis yang bergerak di bidang pengelolaan air, limbah, dan energi. Dalam skala global, mereka hadir di 50 negara dengan jutaan pelanggan di seluruh dunia.
Di Indonesia, perusahaan ini hadir melalui entitas bisnis bernama PT Veolia Services Indonesia. Perusahaan ini mendirikan pabrik daur ulang Polyethylene Terephthalate (PET) berkapasitas 25.000 ton per tahun di Kawasan Pasuruan Industrial Estate Rembang (PIER), Kecamatan Rembang, Kabupaten Pasuruan. Pabrik ini memproduksi PET food grade yang sudah mendapatkan sertifikasi halal dari Majelis Ulama Indonesia (MUI).
Lewat kerja sama yang dilakukan dengan PT Tirta Investama (Danone-AQUA), PT Veolia Services Indonesia menangani solusi untuk mengurangi sampah plastik di Indonesia. Keduanya membentuk pabrik daur ulang botol plastik PET pada akhir Juni 2021. Pabrik ini diresmikan oleh Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita bersama CEO Veolia Southeast Asia Sven Beraud-Sudreau an Presiden Direktur Danone-AQUA Connie Ang.
2. China Conch Venture Holding Limited (China)
China Conch Venture Holding Limited adalah perusahaan yang berasal dari Wuhu, Provinsi Anhui, Tiongkok. Berdiri sejak 2013, perusahaan berfokus pada pelestarian energi, perlindungan lingkungan, dan pembangunan infrastruktur.
Perusahaan ini sudah terdaftar di Bursa Efek Hong Kong dengan kode saham 0586, dan berafiliasi cukup erat dengan Grup Anhui Conch Group Co., Ltd., salah satu grup usaha ternama di Tiongkok dalam industri material seperti bahan bangunan, semen, dan konstruksi.
Ada 5 bidang usaha utama yang digeluti perusahaan ini, yakni: 1) Waste-to-Energy (WtE) atau proyek limbah energi, 2) jasa logistik pelabuhan (port logistics services), 3) material bangunan baru (new building materials), 4) energi baru, dan 5) bidang investasi dan aset strategis.
China Conch Venture Holding Limited menjadikan bisnis WtE sebagai segmen utama. Termasuk solusi insinerasi limbah atau pembakaran limbah untuk mengubahnya menjadi energi, pengolahan limbah padat untuk menghasilkan energi panas dan listrik, dan produksi dan penjualan peralatan pembangki energi sisa panas.
China Conch Venture Holding Limited diketahui pernah menjalin kerja sama dengan perusahaan di Indonesia. Salah satunya dengan PT Conch South Kalimantan Cement (PT CSKC), perusahaan yang juga bernaung di bawah Anhui Conch Group Co., Ltd.
PT CSKC pernah mendapatkan anugerah sebagai 'Wajib Pajak Besar' dan memiliki kegiatan yang melibatkan masyarakat lokal dan pemerintah di Kalimantan Selatan.
3. Mitsubishi Heavy Industries Environmental and Chemical Engineering (Jepang)
Mitsubishi Heavy Industries Environmental and Chemical Engineering (MHIECE) adalah pemain lama dalam proyek lingkungan dan energi bersih di dunia. Jejak anak perusahaan ini sudah dikenal di Singapura untuk program Waste-to-Energy (WtE), yakni di Tuas South.
Proyek senilai 750 juta dolar Singapura yang dikenal dengan TuasOne Waste-to-Energy Plant Project ini adalah salah satu contoh bagi sejumlah tempat yang memulai program pengolahan sampah menjadi energi, termasuk Indonesia.
Di Tiongkok, MHIECE mengembangkan proyek Lao Gang fase kedua di Shanghai yang merupakan salah satu proyek WtE terbesar di dunia senilai 11 miliar yen. Di Shanghai, MHIECE mengolah 6000 ton sampah setiap hari untuk 144 megawatt listrik.
Di Jepang, perusahaan ini menandatangani kontrak baru pada 2025 untuk peningkatan efisiensi energi listrik di pusat insinerasi limbah padat di kota kelahirannya, Kanazawa, dan Miyazaki. Di Kanazawa energi listrik yang dihasilkan dari sampah sebesar tiga MegaWatt dari 250 ton sampah per hari.
Sementara, Indonesia sudah menggunakan mesin pengolah sampah produk MHIECE berkapasitas 100 ton sampah di Tempat Pengelolaan Sampah Terpadu (TPST) Bantargebang, untuk proyek Pembangkit Listrik Tenaga Sampah (PLTSa) sejak 2019 bersama dengan PLN Nusantara Power.
Energi listrik yang dihasilkan adalah 750 kilowatt per jam untuk penerangan di sekitar tempat pembuangan. Metode WtE yang dilakukan MHIECE di lebih dari 300 pabrik seluruh dunia adalah dengan mesin pembakaran atau insinerator tingkat tinggi yang mampu membakar lumpur limbah dengan berbagai berat.

Senin, 16 Feb 2026 15:13 WIB
Sekretaris Jenderal (Sekjen) PDIP, Hasto Kristiyanto, menyebut sejumlah aksi nyata PDIP untuk menyelesaikan masalah ekologis di Kota Jogja. Salah satunya adalah menyiapkan lahan seluas 3 hektare untuk membangun Sekolah Lapang.
Hal tersebut disampaikan Hasto Kristiyanto usai menanam bibit pohon seperti Kepel yang merupakan identitas flora DIY, pohon buah-buahan, hingga Tabebuya dan di Embung Giwangan, Senin (16/2/2026). Kegiatan tersebut merupakan aksi lingkungan bertajuk "Merawat Pertiwi" yang dilakukan bersama jajaran DPD hingga DPC PDIP Kota Jogja.
Dalam kesempatan itu, Hasto juga memberi instruksi khusus kepada Wali Kota (Walkot) Jogja, Hasto Wardoyo, untuk memperbanyak taman kota dan memperbaiki sistem drainase.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Saya sampaikan pesan kepada Pak Hasto Wardoyo untuk menata kota dengan disiplin. Membangun taman-taman kota sangat penting untuk memberikan ruang publik bagi anak muda berdiskusi, sekaligus menjadi ruang kehidupan yang lebih baik," ujar Hasto Kristiyanto seperti dalam keterangan tertulis yang diterimadetikJogja, hari ini.
Selain itu, Hasto menyebut, PDIP telah menyiapkan lahan seluas 3 hektare untuk membangun Sekolah Lapangan. Di lahan tersebut nantinya akan dilakukan pembibitan dan pengelolahan sampah organik.
"Kami sepakati, PDI Perjuangan memiliki tanah 3 hektare yang sebelumnya direncanakan untuk Sekolah Partai, kini akan dialihkan menjadi Sekolah Lapang. Lahan ini akan digunakan untuk nursery (pembibitan) dan pusat pengolahan sampah organik menjadi pupuk," kata Hasto.
Menanggapi isu lingkungan di Kota Jogja, Hasto memberikan instruksi khusus lainnya kepada Walkot Hasto Wardoyo, untuk memperkuat tata kelola sampah menggunakan teknologi bakteri pengurai agar sungai-sungai di Jogja bersih dari limbah plastik. Dia menekankan, ciri kader PDIP yang sejati adalah mereka yang mau berhenti sejenak untuk memungut sampah plastik yang mereka temui di jalan.
Selain itu di Grha Budaya, Hasto Kristiyanto juga menyampaikan pidato tentang politik yang berkaitan dengan falsafah Jawa. Dia mengutip kisah Subali yang mendapatkan Aji Pancasona karena rasa cinta yang luar biasa kepada bumi.
"Aji Pancasona itu kekuatannya berasal dari bumi. Pesan moralnya jelas: jika kita merawat bumi, maka bumi akan menghidupi kita. Namun jika kita mengkhianatinya, bumi bisa membelah dan menciptakan kesengsaraan," ungkapnya.
Hasto Kristiyanto juga menegaskan bahwa gerakan menanam pohon bukan sekadar seremoni, tetapi juga strategi kebudayaan partai untuk melawan ego kapitalisme yang sering mengeksploitasi alam demi kepentingan elektoral sempit.
Dalam kesempatan tersebut, Hasto Kristiyanto turut membagikan kebiasaan Ketua Umum PDIP, Megawati Soekarnoputri, dalam menjaga kelestarian lingkungan secara mandiri. Dia menceritakan bagaimana Megawati selalu mengumpulkan biji-biji buah dalam setiap rapat untuk disemai kembali, hingga memanfaatkan sisa air kopi tamu sebagai pupuk organik.
"Ibu Mega mengajarkan hal-hal fundamental. Bahkan botol plastik bekas tidak dibuang, tapi dijadikan wadah pembenihan. Ini yang harus dicontoh kader di Yogyakarta, terutama dalam menangani masalah sampah di kota ini," tambahnya.
Sementara itu, Ketua DPC PDIP Kota Jogja, Eko Suwanto, menambahkan kader partai di tingkat akar rumput terus bergerak melakukan kerja-kerja nyata di lapangan. Eko melaporkan, normalisasi sungai menjadi salah satu agenda rutin yang dijalankan.
"Kami melaporkan kepada Pak Sekjen, selain menanam pohon, kami juga konsisten melakukan normalisasi sungai. Beberapa waktu lalu kami bersama Pak Ganjar (Pranowo) telah melakukan bersih-bersih di Sungai Code, dan aksi ini terus berlanjut sebagai implementasi ideologi merawat pertiwi," ungkap Eko Suwanto.
Selanjutnya, Walkot Hasto Wardoyo menyebut aspek lingkungan dan kemanusiaan adalah satu kesatuan yang tidak bisa dipisahkan. Sejak awal pencalonannya, Hasto Wardoyo mengatakan, pihaknya telah fokus untuk menata taman dan kebersihan sungai sudah menjadi janji politik yang terus diwujudkan.
"Merawat lingkungan sama maknanya dengan merawat kehidupan. Selain lingkungan, masalah kemiskinan dan kesehatan juga kami garap serius. Kami laporkan bahwa program bedah rumah terus berjalan setiap Minggu melalui semangat gotong royong tanpa menggunakan APBD maupun dana pusat," ungkap Hasto Wardoyo.
Lebih lanjut, Hasto Wardoyo memaparkan keberhasilan signifikan dalam menekan angka stunting di Kota Jogja. Berkat dukungan anggaran dari jajaran anggota DPRD dari PDIP sebesar Rp100 juta per kelurahan, angka stunting di Kota Jogja berhasil turun drastis.
"Dari angka 14,8 persen, saat ini angka stunting di Yogyakarta sudah turun menjadi 8,4 persen dalam waktu satu tahun. Ini adalah hasil gotong royong semua pihak untuk memastikan generasi mendatang tumbuh sehat dan berprestasi," pungkasnya.
Adapun aksi tanam pohon di Embung Giwangan menjadi pembuka sebelum acara puncak Public Lecture Series 002 bertajuk "Spirit of Humanity and Human Solidarity: Pendidikan, Keadilan, dan Hak Generasi" yang digelar di lokasi yang sama.
Acara diskusi publik tersebut dijadwalkan menghadirkan sejumlah tokoh seperti Rocky Gerung, Rimawan P., dan dipandu oleh politisi muda Aryo Seno Bagaskoro.
